Blog single

Kantor Akuntan Publik Jakarta TNN with BOKS International
Feasibility Study

Feasibility Study Bukan Dokumen untuk Membenarkan Investasi

Rencana ekspansi telah dibahas. Vendor mulai dipertimbangkan. Anggaran awal telah disiapkan. Bahkan, target pelaksanaan mungkin sudah disampaikan kepada pihak internal.

 

Baru setelah itu, tim diminta menyusun feasibility study atau studi kelayakan.

 

Secara formal, kajian tersebut disusun untuk menilai kelayakan investasi. Namun, ketika organisasi sudah terlanjur memiliki preferensi terhadap suatu keputusan, studi kelayakan berisiko diarahkan untuk mengonfirmasi keputusan yang telah dibuat.

 

Hal ini tidak selalu berarti bahwa angka sengaja dimanipulasi. Bias dapat masuk dengan cara yang lebih halus: pertumbuhan penjualan diasumsikan terlalu cepat, biaya investasi tidak memasukkan dana cadangan yang memadai, tambahan modal kerja diperkirakan terlalu rendah, atau masa awal operasi dianggap berjalan tanpa hambatan.

 

Akibatnya, studi kelayakan berubah dari alat untuk menguji investasi menjadi dokumen untuk membenarkannya.

Ketika kajian dimulai dari kesimpulan

Setiap rencana investasi biasanya memiliki daya tarik tersendiri. Investasi dapat membuka pasar baru, meningkatkan kapasitas, menekan biaya, atau memperkuat posisi perusahaan.

 

Masalah muncul ketika daya tarik tersebut membuat manajemen terlalu cepat berkomitmen terhadap suatu pilihan.

 

Setelah komitmen terbentuk, pertanyaan yang diajukan perlahan berubah. Manajemen tidak lagi bertanya, “Apakah investasi ini layak dijalankan?”, tetapi mulai bertanya, “Bagaimana agar investasi ini terlihat layak?”

 

Dalam kondisi seperti ini, asumsi yang mendukung investasi lebih mudah diterima, sedangkan informasi yang dapat melemahkan keputusan cenderung dianggap terlalu konservatif.

 

Studi kelayakan yang baik seharusnya menjaga jarak dari dorongan tersebut. Tugasnya bukan menghasilkan jawaban yang diinginkan, melainkan menguji apakah keputusan tetap masuk akal setelah seluruh kebutuhan, keterbatasan, dan risikonya diperhitungkan.

Angka yang menarik belum tentu menghasilkan keputusan yang tepat

Penilaian investasi umumnya menggunakan beberapa indikator keuangan, antara lain:

•  nilai kini bersih (net present value/NPV);

•  tingkat pengembalian internal (internal rate of return/IRR); dan

•  periode pengembalian modal (payback period).

 

Ketiganya memiliki fungsi yang berbeda. NPV membantu menilai nilai ekonomi yang diperkirakan akan diciptakan oleh investasi. IRR menunjukkan tingkat pengembalian yang dihasilkan proyek, sedangkan periode pengembalian modal menunjukkan waktu yang diperlukan untuk memperoleh kembali investasi awal.

 

Namun, tidak satu pun dari indikator tersebut dapat berdiri sendiri. Periode pengembalian modal tanpa diskonto, misalnya, mengabaikan nilai waktu uang, arus kas setelah modal kembali, serta tidak mengukur nilai yang diciptakan oleh investasi. Penjelasan lebih lanjut mengenai keterbatasan tersebut dapat dilihat dalam materi ACCA mengenai metode periode pengembalian modal dan periode pengembalian modal terdiskonto.

 

Lebih penting lagi, hasil perhitungan selalu bergantung pada asumsi.

 

NPV positif tidak berarti investasi pasti berhasil. Angka tersebut menunjukkan bahwa proyek diperkirakan menciptakan nilai apabila asumsi mengenai volume, harga, biaya, margin, kebutuhan modal kerja, jadwal pelaksanaan, dan arus kas benar-benar tercapai.

 

Oleh karena itu, persoalannya bukan hanya apakah perhitungannya benar, tetapi juga apakah asumsi di balik perhitungan tersebut cukup masuk akal.

Empat pertanyaan yang perlu dijawab

Studi kelayakan yang kuat tidak berhenti pada pertanyaan mengenai potensi keuntungan. Setidaknya terdapat empat pertanyaan yang perlu diuji.

1. Apakah investasi menciptakan nilai ekonomi?

Analisis perlu dimulai dari sumber nilai yang hendak diciptakan.

 

Apakah investasi akan meningkatkan volume penjualan, memperbaiki margin, menurunkan biaya, meningkatkan pemanfaatan kapasitas, atau menghasilkan manfaat strategis lain yang dapat diterjemahkan secara finansial?

 

Proyeksi seharusnya menggunakan arus kas tambahan yang benar-benar timbul karena investasi, bukan sekadar laba akuntansi. Perhitungan juga perlu memperhitungkan seluruh arus kas tambahan yang relevan, seperti belanja modal, biaya awal operasi, pajak, tambahan modal kerja, dan nilai sisa aset. Sementara itu, biaya modal tercermin melalui tingkat diskonto yang sesuai.

 

Tanpa pemahaman yang jelas mengenai sumber nilai tersebut, model keuangan dapat menghasilkan angka yang menarik, tetapi sulit dipertanggungjawabkan.

2. Apakah perusahaan mampu membiayainya?

Proyek yang menguntungkan belum tentu mampu dibiayai oleh perusahaan.

 

Total kebutuhan dana sering kali lebih besar daripada nilai pembelian aset atau biaya pembangunan. Perusahaan mungkin juga perlu menanggung biaya praoperasi, dana cadangan, kerugian selama masa awal operasi, tambahan persediaan, peningkatan piutang, serta kebutuhan kas sebelum proyek menghasilkan arus kas positif.

 

Karena itu, studi kelayakan perlu menilai:

•  total kebutuhan kas hingga kegiatan operasional stabil;

•  waktu dan kepastian ketersediaan pendanaan;

•  tambahan kebutuhan modal kerja;

•  ketahanan kas selama pelaksanaan;

•  ruang pendanaan yang masih tersedia; dan

•  dampak investasi terhadap likuiditas serta kewajiban bisnis utama.

 

Sebuah proyek dapat menghasilkan NPV positif untuk lima tahun ke depan, tetapi tetap membahayakan perusahaan apabila menimbulkan kekurangan kas pada tahun pertama.

 

 

Pertanyaan investasi bukan hanya, “Berapa besar keuntungan yang dapat dihasilkan?”, tetapi juga, “Apakah perusahaan memiliki kemampuan keuangan untuk mencapai keuntungan tersebut?”

3. Apakah organisasi siap menjalankannya?

Model keuangan tidak menjalankan proyek. Organisasi yang menjalankannya.

 

Karena itu, kelayakan finansial perlu dihubungkan dengan kesiapan pasar dan operasional. Perusahaan perlu menguji apakah permintaan benar-benar tersedia, kapasitas dapat ditingkatkan, pasokan bahan baku terjamin, tenaga kerja mencukupi, teknologi siap digunakan, serta perizinan dapat diperoleh sesuai jadwal.

 

Investasi baru juga dapat menyerap perhatian manajemen, kas, tenaga kerja, dan kapasitas operasional. Proyek yang terlihat menarik secara individual tetap dapat merugikan perusahaan apabila pelaksanaannya mengganggu bisnis utama.

 

 

Kelayakan investasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas peluang, tetapi juga oleh kemampuan organisasi untuk mengeksekusi peluang tersebut.

4. Apakah proyek tetap layak ketika asumsi meleset?

Skenario dasar hanya menggambarkan satu kemungkinan. Kenyataannya, penjualan dapat tumbuh lebih lambat, biaya dapat meningkat, jadwal dapat tertunda, dan kebutuhan modal kerja dapat melampaui rencana.

 

Analisis sensitivitas dan skenario seharusnya tidak sekadar menghasilkan beberapa tabel tambahan. Tujuan utamanya adalah menemukan titik kritis yang dapat mengubah keputusan.

 

Manajemen perlu mengetahui:

•  berapa penurunan volume yang membuat NPV menjadi negatif;

•  berapa kenaikan biaya yang masih dapat ditanggung;

•  berapa lama keterlambatan mulai membahayakan likuiditas;

•  apa yang terjadi jika margin turun bersamaan dengan kenaikan modal kerja; dan

•  asumsi mana yang paling menentukan keberhasilan investasi.

 

 

Analisis skenario membantu memperlihatkan rentang kemungkinan hasil dan risiko proyek ketika faktor ekonomi, persaingan, maupun asumsi operasional berubah. Pembahasan lebih lanjut mengenai pendekatan tersebut dapat dilihat dalam materi Aswath Damodaran mengenai ketidakpastian dalam penganggaran modal.

Keputusan tidak harus berhenti pada Go atau No-Go

Studi kelayakan sering diharapkan menghasilkan satu jawaban tegas: investasi dijalankan atau tidak dijalankan.

 

Padahal, keputusan yang lebih bertanggung jawab dapat berbentuk:

•  Go — investasi dapat dijalankan;

•  Hold — keputusan ditunda sampai informasi atau prasyarat penting tersedia;

•  No-Go — investasi tidak dijalankan karena risikonya tidak sebanding dengan potensi hasil; atau

•  Go with Conditions — investasi dijalankan setelah persyaratan tertentu dipenuhi.

 

Sebagai contoh, investasi dapat dinyatakan layak dengan persyaratan bahwa perusahaan telah memperoleh kontrak minimum dari pelanggan, fasilitas pendanaan telah tersedia, perizinan utama telah selesai, atau kebutuhan modal kerja tidak melampaui batas tertentu.

 

Dengan pendekatan tersebut, studi kelayakan tidak hanya memberikan kesimpulan. Kajian tersebut juga menetapkan rambu keputusan yang perlu dijaga selama pelaksanaan investasi.

Dari dokumen persetujuan menjadi disiplin investasi

Nilai utama studi kelayakan bukan terletak pada kemampuannya menghasilkan NPV positif atau IRR yang tinggi.

 

Nilainya terletak pada kemampuannya mengungkap asumsi yang lemah, kebutuhan dana yang belum terlihat, risiko pelaksanaan, serta kondisi yang dapat mengubah keputusan.

 

Melalui layanan Feasibility Study, kami membantu perusahaan menilai investasi dan rencana ekspansi secara terstruktur. Kajian mencakup proyeksi arus kas, NPV, IRR, periode pengembalian modal, kebutuhan pendanaan dan modal kerja, analisis sensitivitas, skenario penurunan, serta perumusan rekomendasi keputusan dan persyaratan pelaksanaannya.

 

 

Tujuannya bukan hanya menghasilkan model keuangan, tetapi memberikan dasar keputusan yang lebih terukur, dapat dipertanggungjawabkan, dan sesuai dengan kemampuan perusahaan.

Feasibility study yang baik tidak mencari cara agar investasi terlihat layak. Kajian tersebut menguji sampai batas mana investasi masih layak dijalankan—dan kapan seharusnya ditahan.

Referensi